Sabtu, 23 Oktober 2010

tentang keyakinan

Kita sebagai manusia adalah pewaris adat istiadat dan kebiasaan kepribadian. Keyakinan kita di bentuk berdasarkan dimana kita dilahirkan. Tanpa disadari kita di bentuk oleh lingkungan sekitar kita.

Sama halnya dengan keyakinan kita dalam beragama, jika kita lahir di mekah, tdk akan heran jika kita berucap, “Tiada Tuhan Selain ALLAH, dan Muhammad adalah Rasul ALLAH”. Begitu juga jika kita lahir di sekitar Sungai Gangga, maka kita adalah hamba Dewa Siwa yang merindukan Surga Nirvana. hal tersebut tak lain karna manusia adalah sosial, maka akan enggan berbeda dengan sekeliling mereka.

Entah ini takdir atau memang aturan, bahwa anak (harus) selalu mencintai kedua orang tua mereka. Dengan itu, setiap anak akan mewarisi pemikiran yg di bangun oleh ayah dan ibu mereka, dan setiap anak pun akan dgn bangga mengatakan kalau agama IBU dan AYAH adalah agama yg (cukup) baik menurut mereka.

Kenapa di Amerika terdapat banyak sekali sekte-sekte, karena ayah dan ibu mereka seperti itu, semua penduduk Vatikan berpegang pada Katolik karena ayah dan ibu mereka dulu seperti itu, orang-orang Inggris cenderung menjadi Episkopal karena orang tua mereka juga seperti itu, penduduk di Pasuruan banyak mengenakan sarung dan mengaku Islam karena orang tua mereka mengajarkan seperti itu.

Keyakinan kita pun banyak terbentuk karena faktor kekuasaan. dulu kala, jutaan orang kafir dan musyrik di paksa menjadi Kristen / Islam / Buddha / Hindhu atau yg lainnya karena titah sang raja dan pemimpin. Seorang Kristen bisa secara tiba-tiba berganti Islam keesokan harinya karena sang bos meminta begitu.


"Begitu hebatnya tajuk kekuasaan sehingga bisa seenaknya saja menekan kebebasan kita dalam meyakini suatu hal"

Kepercayaan tidak harus tunduk terhadap kehendak, apapun alasannya. Karena sejatinya manusia terlahir karena kebebasan. Bukan karena ikut-ikutan tren atau gaya hidup lingkungan sekitar. Anak-anak terkadang lebih superior dari pada orang tua mereka, mengubah cara berpikir mereka, mengganti kebiasaan mereka yg akhirnya akan tiba pada satu kesimpulan baru.

Seperti anak-anak yg lain, aku di besarkan dalam lingkungan yg tahu akan Islam. Orang-orang disekitarku tidak perlu lagi mencari tahu akan hal itu, karena mereka benar-benar tahu dan yakin akan hal itu. Mereka memegang wahyu ALLAH, mereka tidak hanya tahu sebuah awal tp mereka jg mengetahui sebuah akhir. Mereka (sangat) tahu bahwa ALLAH menciptakan dunia berserta isinya ini hanya dlm waktu yang singkat, mereka tahu asal-usul kejahatan, mereka juga tahu penyebab penyakit yg akhirnya berujung pada kematian.

Mereka tahu bahwa hidup ini memiliki 2 jalan. Dimana jalan yg dipenuhi oleh tumpukan duri liar, basah oleh air mata, ternoda oleh darah yg berasal dari kaki mereka yg melewatinya akan mengarah kepada Surga dan jalan yg di penuhi dgn tumpukan bunga, suara gelak tawa, nyanyian kesenangan akan berujung pada Neraka. Mereka tahu bahwa ALLAH akan “memaksa” anda untuk tetap berada pada jalan yg pertama dan selalu menjadikan IBLIS sebagai penggoda agar anda tetap pada jalan itu.

Mereka selalu tahu bahwa pertempuran antara yg “baik” dan yg “buruk” akan selalu terjadi di antara dua jalan itu. TUHAN juga tdk akan memberikan pahala terhadap org yg jujur, berani dan murah hati, tetapi dia akan mengalungkan pahala karena iman.

Walaupun lingkungan sekitarku seperti itu, dan aku pernah membaca atau mendengarkan kitab dan buku-buku tentangNYA, aku msh belum bisa mencintai TUHAN seperti itu. Aku sempat beranggapan bahwa hal itu tidak dapat diketahui oleh akal pikiran manusia yg terbatas. Aku tidak akan mungkin mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang Maha Kuasa” walaupun secara perasaan subyektif di mungkinkan tp secara obyektif pada dasarnya MEREKA tidak dapat memiliki informasi yg dpt diverifikasi.
sampai saat ini, aku hanya manusia yg akan selalu (dan terus) mencoba untuk berimajinasi menggambarkan dan meyakini MAHA YANG TIDAK TERBATAS, MAHA YANG SATU, MAHA YANG SEBENARNYA

0 komentar:

cha-tmeo-nym!

Labels

kemajemukan tidak. Diberdayakan oleh Blogger.