Kamis, 28 Oktober 2010

pita, garuda, dan doa

Ketika banyak orang serentak berbicara mengenai persatuan, doa, dan solidaritas, seolah terkesan kita telah menjadi negara kesatuan yang sesungguhnya. Satu bersatu padu untuk memberi kesan peduli akan keadaan. Satu bersama serentak mengganti profil dengan gambar pita berlogo garuda dan bertuliskan “pray for Indonesia” atau dengan yang lebih keren “Indonesia unite” menggunakan bahasa Inggris tentunya agar lebih terkesan modern.

Apakah mereka benar-benar bersimpati? Apakah hanya trend agar terlihat eksis dan terlihat peka akan keadaan? Hahaha, saya cemburu kepada mereka. Andai saya seperti mereka tentu akan mendapat perhatian khusus dari teman-teman dan saya akan makin populer.

“owh hei, pp km bagus”

“notification: 23 friends like your status”

“notification: 66 friends comment on your photo”

RT

#

@

Dan benar saya cemburu dengan mereka. Andai saya bisa seperti mereka, saya akan menjadi manusia anti sosial yang sangat cinta dengan computer/laptop sampai tak mampu jauh darinya.

Dengan menuliskan dan mengganti foto profil, terlihat mereka adalah orang-orang tidak bersalah yang bersimpati dan peduli akan orang yang terkena musibah. Tak terlintas di benak mereka sedikitpun bahwa musibah tersebut adalah hasil karya mereka juga. Tak terbesit di pikiran bahwa mereka adalah aktor pendukung utama adanya musibah tersebut. Aktor yang tak disadari telah memupuk kesuburan bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa disadari ketika sudah mencapai titik puncak.

Sudah jelas disebutkan dimana saja bahwasanya semua perbuatan pasti ada balasannya. Hanya tinggal menunggu waktu kapan balasan tersebut datang. Dalam kasus ini, kita telah lalai akan apa yang alam beri untuk umat manusia. Kita terlalu serakah mengambil apa yang telah ia sediakan. Kita tidak terlalu pintar untuk memanfaatkan apa yang telah Yang Maha Kuasa beri. Memang itu sifat dasar manusia yang tak bisa dirubah. Selalu menginginkan lebih dan lebih untuk kepentingan pribadi.

Dan hasilnya benar, runtutan bencana terjadi seiring dengan acara seremonial sejarah yang pada saat itu disebut Sumpah pemuda. Ya pemuda saat itu, bukan pemuda pada saat ini.

Penulisan “what’s on your mind” juga hanya di jari saja. Tak ada tindakan jelas dan tegas dari diri mereka untuk berubah. Jadilah yang benar-benar dalam what’s on your mind saja. Anggap saja itu adalah peristiwa rutin tahunan sebagai objek pengisi buku agenda kesalahan manusia.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud membanggakan diri bahwasanya saya adalah seorang pembenar. Saya hanya manusia biasa yang tak luput dari salah. Hanya bercermin dari sekitar yang tak lain saya sendiri adalah bagian dari cermin dan refleksi cermin tersebut.

mengetahui sebuah kesalahan adalah sebuah usaha untuk berubah menjadi lebih baik


0 komentar:

cha-tmeo-nym!

Labels

kemajemukan tidak. Diberdayakan oleh Blogger.